RSS

Ketika Cinta Terhalang Kasta

“Bembi,” suara seorang gadis memanggil laki-laki di sampingnya, manja.

“Iya sayang,” jawab si laki-laki tidak kalah lembut.

Bukannya melanjutkan kata-katanya, si gadis malah tersenyum-senyum. Senyum yang kemudian membuat laki-laki yang dipanggil Bembi itu tak kuasa lagi menahan jemarinya untuk mencubit bibir mungil si gadis.

“Ih…sakit,” kata si gadis sambil cemberut.

“He…he…he,” si laki-laki terkekeh.

Siang yang terik tidak membuat dua insan di mabuk asmara itu bergeming dari tempatnya. Di bawah pohon kelapa angin semilir terasa seperti puluhan dayang mengipasi ratu dan raja.

“Bembi,” panggil si gadis lagi.

“Apa?” masih dengan suara lembut si laki-laki menjawab.

“Kamu sayang aku nggak?”

“Nggak,” jawab si laki-laki.

Mendengar jawaban kekasihnya, si gadis langsung menarik tangannya yang sedari tadi dibelai arjunanya. Matanya yang besar semakin melebar, bibirnya cemberut. Dengan kesal si gadis membalik badannya, membelakangi sang kekasih.

“He…he…he. Gitu aja marah, necu. Dengerin dulu dong, kan belum selesai tadi ngomongnya,” kata si laki-laki sambil menarik kembali tangan gadisnya.

Si gadis diam. Masih bibirnya cemberut. Kesal. Laki-laki di sampingnya mengelus lembut jemarinya. Sesekali diciumi jari-jari putih nan lentik itu.

“Nggak waras kalo aku nggak sayang kamu,” kata si laki-laki kemudian terkekeh.

Jawaban yang langsung membuat pipi si gadis merona. Gadis itu masih belia, belasan tahun umurnya. Rambutnya yang hitam menjuntai sampai pinggangnya. Bajunya putih tulang terlihat pas di kulitnya yang bersih. Baju yang akan mengingatkan orang pada baju-baju noni belanda. Tidak mengherankan karena si gadis memang berdarah campuran. Ayahnya adalah seorang belanda yang kesengsem dengan gadis desa anak mandor perkebunan yang dikelola keluarganya.

Berbeda dengan si gadis, laki-laki itu terlihat jelas adalah seorang pribumi. Kulitnya coklat, sedikit terbakar. Tubuhnya tegap, bertelanjang dada. Wajahnya keras, menggambarkan kerasnya hidup yang dia jalani. Rambutnya yang panjang, terurai melebihi bahu. Sekilas laki-laki itu tampak sangar. Kesangaran yang saat ini tak terlihat karena mata yang bersinar penuh cinta. Segarang-garangnya laki-laki dia hanyalah kucing yang manis ketika jatuh cinta.

Dua anak manusia itu terus saja menggumbar kemesraan. Rayuan-rayuan manis, diselingi belaian lembut pada jemari si gadis pujaan adalah senjata yang digunakan sang arjuna. Si gadis yang meski sering cemberut mendengar rayuan gombal tak urung berbunga-bunga juga hatinya.

“Bembi…”

“Sayang…”

Siapa yang datang di antara dua anak manusia berlainan jenis yang sedang dimabuk cinta kalau bukan setan gundul bercelana seadanya. Tuyul yang katanya suka mencuri uang itu ternyata lebih tertarik menjadi saksi sekaligus tukang kompor yang menghembuskan bisikan-bisikan halus ke telinga sepasang kekasih itu.

“Bajul buntung! Kere ra kathokan! Wani-wanine kowe kurang ajar karo ndoro ayuku!”

Suara yang sangat keras membuat si gadis dan kekasihnya melonjak kaget. Untuk sekian detik sepasang kekasih itu hanya terdiam. Suara yang datang dari mandor perkebunan kelapa milik ayah si gadis kembali menggelegar, menyadarkan si gadis untuk segera membenahi bajunya yang awut-awutan.

“Seret kere kui, gowo nang ndoro!”

Si mandor yang datang bersama dua orang anak buahnya memerintahkan dua cecunguknya itu untuk menyeret laki-laki yang tak lain adalah Bambank, kuli di perkebunan itu. Sementara itu si gadis yang kalut, takut hanya bisa menangis, tidak tahu harus berbuat apa.

“Kurang ajar tenan kowe, Mbank. Iki caramu mbales ndoromu? Siap-siap digantung kowe. Bajul tenan!” si mandor masih berteriak.

Dua orang anak buah si mandor yang berbadan tegap menyerat tangan Bambank. Bambank yang sadar betul bahaya yang mengancam nyawanya berusaha berontak. Untuk sejenak dia mengutuk dirinya yang lupa diri, lupa jidat sendiri. Cintanya akan membuat hidupnya yang tak pernah lepas dari penderitaan itu berakhir tragis. Hidup tidak pernah adil padanya. Cinta bukan untuk seorang kuli perkebunan seperti dirinya, tidak pada anak ndoronya sendiri.

“Lepaskan!” si gadis berteriak, meminta anak buah ayahnya untuk melepaskan kekasih hatinya.

“Jangan ndoro ayu, dia tidak pantas untuk ndoro ayu. Najis ndoro, haram!” kata si mandor.

Si mandor menarik lengan ndoro ayunya yang berusaha membantu Bambank. Dua anak manusia itu tahu betul apa yang akan mereka hadapi. Seorang ayah yang marah, seorang ayah yang juga pemilik perkebunan, orang terkaya di desa itu bisa melakukan apa saja untuk menjaga martabat keluarganya.

“Inge, maafkan aku,” kata Bambank lirih sebelum kemudian berontak sekuat tenaga, melepaskan diri dari cengkeraman dua laki-laki anak buah si mandor.

Dengan sekali hentakan keras Bambank berhasil melepaskan diri. Secepat kilat Bambank melarikan diri. Di antara pohon kelapa yang berjajar rapi kakinya terus melangkah.

“Asu, ojo mlayu kowe!”

Dua anak buah si mandor mengejar Bambank. Inge, si gadis, masih meronta dalam cengkeraman mandor. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya.

“Mbank…Bambank!”

Hampir saja Bambank terjatuh dari ranjang bambu tempatnya merebahkan tubuh. Laki-laki setengah baya itu langsung bangun begitu mengetahui siapa yang memanggilnya. Seorang gadis cantik berdiri, berkacak pinggang di depannya.

“Iyya sayang, ada apa?” tanya tergagap.

“Siang-siang gini tidur, mau jadi juragan loe?”

“Ketiduran sayang, maaf. Ada apa wong ayu?”

“Aku haus, ambilin kelapa muda,” si gadis.

Dukun Bambank berdiri. Baginya apa yang dikatakan gadis itu adalah perintah. Gadis itu yang tidak lain adalah Carolina tampak berkeringat. Sesekali tangannya mengibaskan kipas kecil di tangan kanannya.

“Buruan, lama amat kayak nenek-nenek,” katanya lagi.

“Iya sayang, papah ambilin. Kamu duduk sini saja, nanti papah cariin yang…”

“Ahhh…kelamaan, pake pidato segala. Cepet, panas banget nih tenggorokan.”

Tak ingin mengecewakan anak gadisnya yang belum juga mau mengakui keberadaannya, Dukun Bambank bergegas ke kebun belakang rumah. Golok besar di pinggangnya sudah siap. Menunggu papahnya mengambilkan kelapa muda, Carolina duduk di atas ranjang bambu papahnya. Segar juga di sini, katanya dalam hati. Sedang menikmati semilir angin di teras rumah Dukun Bambank, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Carolina.

“Siang Carol.”

Seorang laki-laki muda terlihat tersenyum-senyum padanya. Laki-laki itu berdiri di depan pagar rumah Dukun Bambank. Carolina diam, tangannya masih sibuk mengibaskan kipas kecilnya. Hanya matanya sempat melirik sebentar tadi.

“Sudah makan siang belum?” si laki-laki muda itu lagi, masih dengan senyum di bibirnya.

“Opo kowe ngguya-ngguyu, minggat!”

Bukan hanya laki-laki muda itu yang terejut dengan suara keras yang tiba-tiba itu tapi juga Carolina. Hampir saja gadis cantik itu melompat dari ranjang bambu yang didudukinya. Dukun Bambank yang tadi sedang mengambil kelapa muda tiba-tiba sudah di depan, tepat di hadapan si laki-laki muda.

“He…he…he…” si laki-laki muda terkekeh sambil mengelus dadanya, kaget.

“Bambank! Sapa suruh loe triak-triak, kaget tauk!” teriak Carolina.

“He..he, maaf sayang, Papah cuma mau ngusir curut ini,” kata Dukun Bambank pada anaknya.

Laki-laki muda yang tidak lain adalah kepala sekolah SD Chentingsari itu masih tersenyum-senyum.

“Minggat, ojo wani-wani kowe…” kata Dukun Bambank masih mencoba mengancam.

“Bambank! Sudah dibilangin jangan triak-triak. Mana kelapa muda gue?”

Sebelum membawa kelapa muda yang berhasil dia ambil untuk anaknya Dukun Bambank mendekati sang kepala sekolah. Matanya melotot. Golok di tangan kanannya diarahkan ke lehernya, memberi tanda ancaman pada laki-laki muda di depannya. Yulamin, sang kepala sekolah menelan ludahnya. Ngeri membayangkan golok besar itu menyentuh lehernya. Perlahan dia pun melangkah pergi meski dengan tatapan masih pada Carolina.

“Ha…ha…ha ngunu ae wedi ha…ha…ha.”

“Pret lah pak kepsek ha…ha…ha.”

Segerombolan anak kecil yang tidak lain adalah para pandawa lima tertawa melihat kepala sekolah mereka ketakutan.

“Wooh bocah-bocah nakal, awas kowe,” ganti si kepala sekolah mengancam murid-muridnya.

Gugun, Ngashim, Sigit, Hendra, Jenni juga anak-anak Chentingsari lain yang baru pulang sekolah langsung berlarian mendengar ancaman kepala sekolah. Meski begitu dari mulut mereka terus saja keluar olokan juga tawa, menertawakan kepala sekolah mereka.

“Bacok! Bacok! Ha…ha…ha.”

“Pak kepsek wedi karo dukun santet! Ha..ha…ha!”

By Rina Tri Lestari

 
4 Comments

Posted by on May 22, 2012 in balada chentingsari, edisi spesial

 

Tags: , , ,

Laskar Korea VS Pandawa

Bagia Dua

Lain lubuk lain belalang. Dikediaman tuan Agung Poku pagi ini juga terjadi keributan. Ngashim bernasib tak jauh beda dengan sahabatnya Gugun. Ngashim termenung di meja makan. Matanya di kucek-kucek lalu dipandangi lagi dengan penuh teliti sajian makanan yang ada dihadapannya. Ditepuk-tepuk pipinya sendiri, lalu dipandangi lagi piring didepannya. Garuk-garuk kepala, kemudian memandangi lagi piring itu. Sulit dipercaya.

“Wis sarapane dimakan! mengko keri sekolah!” bentakan khas dari mak Ijah mengagetkan.

Ngashim masih membisu. Diambilnya sendok, namun tak ada disentuhnya sarapan yang disiapkan mak Ijah. Pelan-pelan dipukul-pukulkan sendok itu ke meja. Ingin rasanya teriak protes dengan perlakuan emaknya yang makin menjadi itu.

Kisah selanjutnya…

 
 

Tags: , ,

BBM Nggak Jadi Naik, Tapi Go Green Jalan Terus!

Di suatu pagi yang indah ceria, terlihatlah sekumpulan bocah-bocah ingusan di sebuah lapangan yang dipenuhi debu. Para pandawa ternyata sedang berkumpul di sebuah pohon yang memang biasa mereka jadikan tempat untuk berkumpul. Entah ada apa dengan hari itu, tetapi kelihatannya sebuah obrolan serius sedang terjadi di sana. Tampang-tampang imut mereka terlihat serius yang menjadikan tampang imut itu berubah jadi amit-amit.

Wajah gugun merah padam karena dari tadi bicara dengan berapi-api. Sedangkan jenni tampak hanya diam melongo serius mendengarkan gugun berbicara panjang lebar. Ngashim sibuk dengan nyari kutu di kepala hendra yang sebenarnya (masih) botak. Sigit terlihat liyer-liyer dengan hembusan angin sepoi-sepoi.

Kisah selanjutnya…

 
3 Comments

Posted by on April 4, 2012 in balada chentingsari, edisi spesial

 

Tags: ,

Hukuman Untuk Anak-anak SD Canting

“Mbank! Bambank!”

Pagi masih malu-malu tapi Carolina sudah berteriak-teriak dari kamarnya memanggil Dukun Bambank.

“Mbank! Duh, kemana sih orang tua satu itu? Sapa juga pagi-pagi gini namu ke rumah orang, bener-bener gak sopan. Ganggu orang tidur!”

Carolina masih ngomel. Tak ada niat melihat orang yang mengetuk pintu depan. Dia masih ingin tidur. Dukun Bambank yang dipanggil tidak muncul-muncul.

Dok dok dok!

Kisah selanjutnya…

 
12 Comments

Posted by on December 20, 2011 in balada chentingsari

 

Tags: , , , , , ,

Benih-benih Cinta pun Mulai Tumbuh

Pada suatu siang, di taman SD Canting, Pandawa, Unyil, Pariyem, dan Uuk berkumpul. Ini aneh. Tidak wajar. Mereka akur dan nampak seperti tengah berdiskusi. Hmm… sepertinya sedang merencanakan sesuatu.

“Gun, kowe ngerti ora, Pak Kepsek saiki aneh!” kata Sigit.

“Iyo je, aku kemarin juga lihat. Pak Kepsek mesam-mesem dewe!” Unyil menimpali.

“Atau jangan-jangan Pak Kepsek dapat hukuman dari Bu Ketan?” Jenni mencoba menjawab.

“Dodol kowe Jen, mosok dapat hukuman malah mesam-mesem?!” Ngashim tak mau tinggal diam.

Kisah selanjutnya…

 
15 Comments

Posted by on December 19, 2011 in balada chentingsari

 

Tags: , , , , ,

Tragedi Suster Ngesot

Siang itu matahari bersinar cukup terik. Para Pandawa terlihat leyeh-leyeh di bawah pohon rambutan yang sedang berbuah lebat di tepian Santiago Berdebu. Biasanya sehabis pulang sekolah mereka akan berkumpul di sana untuk membahas banyak hal. Mulai dari politik hingga hal yang sedang merekla sukai, berburu hantu.

Siang itu mereka sedang menunggu Unyil dan Pariyem yang tadi sepulang sekolah dipanggil oleh Bu Gendis. Entah membicarakan apa.

“Eh, Dab… gimana nih rencana JJS kita yang sudah selesai sampai di sana? Masa gak lanjut maning?” Gugun memulai pembicaraan dengan  Pandawa lainnya. Kisah selanjutnya…

 
1 Comment

Posted by on December 19, 2011 in edisi berburu hantu

 

Tags: , , , ,

Berburu Hantu : Dimarahin Setan!

Setelah kejadian Jenni “ditangkap setan”, ke tujuh anak ini kembali melanjutkan perjalanan malam itu untuk kembali ke rumah. Karena sudah malam dan dalam keadaan panik, mereka semakin jauh tersesat ke tengah kuburan yang cukup luas itu.

Perlahan isak tangis Jenni kembali memecah keheningan, begitu juga sesenggukan Hendra setia menemani tangis Jenni. Gugun sebagai boss tidak ingin terlihat cengeng dan takut, walaupun dalam hati dia sudah sangat amat ketakutan. Kalau tidak mengingat rasa malu dan reputasi sebagai boss yang keren dan pemberani, pastilah dia juga sudah ikutan menangis.

Kisah Selanjutnya…

 
 

Tags: , ,

Berburu Hantu : Tersesat Di Kuburan

“Addduuuuuuuuhhh”  Suara gaduh Carolina yang sepertinya nubruk pintu, ia nampak buru-buru masuk ke dalam rumah Dukun Bambank dengan terpincang-pincang.

“Ono opo sayangku? Kok sepertinya ketakutan begitu?”

“Heh! Nggak usah pake sayang-sayangan. Roro Ayu! Loe lupa? Roro Ayu!” Bentak Carolina yang memang tidak punya sopan santun itu. “Elo pelihara setan ya? Barusan saya dilihatin setan-setan kecil di luar”

“Setan opoooo? Di sini nggak ada setan yang berani sama saya! Lha wong saya ini simbahnya setan kok!”

Kisah Selanjutnya…

 
 

Tags: , , , ,

Setan Pandawa Ketemu Setan Carolina

Siang itu Pandawa beserta Unyil, Uuk dan Pariyem berkumpul di depan sekolahan. Mereka terlihat sibuk kasak-kusuk seperti membicarakan sesuatu. Seperti sedang membahas sebuah konspirasi tingkat tinggi yang membuat Pak Kepsek Yulamin penasaran dan menanyai mereka satu per satu.

“Ehh bocah-bocah dho ngopo iki? Kok sepertinya kalian serius banget, mikir negoro po kepiye?” Pak Kepsek bertanya pada mereka.

“Hehehe pancen mikir negara Pak, negara Chentingsari,” Gugun menjawab dan diikuti oleh derai tawa Pandawa lainnya.

“Walah-walah le, yowiss…yang penting kalian jangan aneh-aneh saja. Ok anak-anak, Pak Kepsek pulang dulu ya,” lanjut Pak Kepsek seraya meninggalkan mereka yang melanjutkan pembicaraan serius itu. Kisah selanjutnya…

 
2 Comments

Posted by on March 26, 2011 in balada chentingsari, edisi spesial

 

Tags: , , ,

Ustadz Mumu Kesurupan?? Masa Sih???

Sejak kejadian “Ngashim Kesurupan” beberapa waktu lalu, topik setan mulai menyeruak di seantero jagad Chentingsari. Mulai dari yang tua sampai yang muda, mulai di warung kopi sampai mushola, semuanya ngomongin hantu. Tak pelak para pandawa saat di mushola seusai sholat magrib, yang biasanya belajar ngaji Al-Quran itu justru membahas masalah hantu.

“Njur piye iki Gun, masa desa kita yang penuh anak-anak yang alim ini bisa kedatangan setan?” tanya Hendra kepada Gugun, sekaligus memecah suasana malam itu yang semakin sunyi.

Gugun yang ditanya hanya diam saja, menopang dagu dengan jempolnya sambil merem melek, seakan ada hal serius yang dipikirkannya.

“Nengopo kowe iki Gun? Kok malah merem melek, mengko ndang awakmu sing ganti kesurupan!” ujar sadewa Jenni kembarannya 5i9it N4kul4 sl4luww. Kisah selanjutnya…

 
2 Comments

Posted by on March 26, 2011 in balada chentingsari, edisi spesial

 

Tags: ,

Pagi Yang Cerah di Chentingsari

Pagi yang cerah, sangat cerah. Matahari bersinar seolah anak kecil yang baru dibelikan sepeda roda tiga pertamanya, semangat dan riang. Desa Chentingsari, seperti biasa, sudah menggeliat. Para ibu sudah sibuk di dapur masing-masing. Teriakan-teriakan mulai dari yang kecil sampai yang keras menggelegar sesekali terdengar dari para ibu itu. Apalagi kalau bukan untuk membangunkan anak-anak mereka yang masih saja enggan melepas bantal dan guling.

“Nyil, bangun. Nggak sekolah opo?” tanya Bu Mesharoh sambil menarik selimut Unyil.

Unyil yang punya kebiasaan tidur sambil ngemut jempol diam saja. Kisah selanjutnya…

 
16 Comments

Posted by on March 26, 2011 in balada chentingsari, edisi spesial

 

Tags: , , , , , , ,

Kenyataan Pahit Tentang Carolina

Seperti biasanya, para Pandawa selalu berkumpul di dekat lapangan Santiago Berdebeu bergosip yang tidak jelas setelah pulang sekolah. Bukannya pulang ke rumah, tetapi seperti biasa mereka memilih untuk berkumpul dahulu. Kalau tidak merencanakan mengerjai Unyil, pastilah ada ada gosip baru yang digosipkan oleh mereka. Dan kali ini mereka lebih memilih bergosip daripada merencanakan sesuatu untuk Unyil.

Saat sedang asyik bergosip, tiba-tiba Paman Dori datang pada mereka. Tidak perlu heran mengapa paman dori bisa tau para Pandawa saat ini berada di lapangan Santiago Berdebeu, karena Paman Dori hafal dengan kebiasaan para Pandawa ini.

Eh, anak-anak. Kalian bisa membantu paman tidak?” Paman Dori tiba-tiba datang dengan panik. Kisah selanjutnya…

 
4 Comments

Posted by on March 26, 2011 in balada chentingsari, edisi spesial

 

Tags: , ,